kuning rumah sakit
Kuning Rumah Sakit: Understanding and Managing Jaundice in Hospital Settings
Kuning, atau penyakit kuning, yang ditandai dengan menguningnya kulit dan sklera (bagian putih mata), adalah kondisi umum yang ditemui di rumah sakit, khususnya pada bayi baru lahir. Perubahan warna kuning ini timbul dari peningkatan kadar bilirubin, pigmen kuning yang dihasilkan selama pemecahan normal sel darah merah. Meskipun sering kali bersifat jinak dan bersifat fisiologis, penyakit kuning dapat menandakan masalah medis mendasar yang memerlukan diagnosis dan penanganan segera. Di lingkungan rumah sakit, pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengobati penyakit kuning sangat penting untuk memastikan hasil yang optimal bagi pasien.
Ikterus Fisiologis vs. Patologis: Perbedaan Kritis
Penyakit kuning pada bayi baru lahir seringkali bersifat fisiologis, mencerminkan ketidakmatangan kemampuan hati bayi baru lahir untuk memproses bilirubin secara efisien. Setelah lahir, sel darah merah janin dipecah dan melepaskan bilirubin. Hati bayi baru lahir, yang masih berkembang, mungkin tidak dapat berkonjugasi (membuatnya larut dalam air) dan mengeluarkan bilirubin dengan cukup cepat, sehingga menyebabkan peningkatan sementara. Penyakit kuning fisiologis ini biasanya mencapai puncaknya sekitar 3-5 hari kehidupan dan hilang dalam satu atau dua minggu.
Namun, penyakit kuning patologis memerlukan perhatian segera. Ini ditandai dengan:
- Awitan dini: Penyakit kuning muncul dalam 24 jam pertama kehidupan.
- Peningkatan cepat kadar bilirubin: Melebihi ambang batas usia tertentu yang ditetapkan.
- Durasi berkepanjangan: Bertahan melampaui jangka waktu yang diharapkan untuk penyakit kuning fisiologis.
- Adanya kondisi medis yang mendasari: Seperti ketidakcocokan golongan darah, infeksi, atau gangguan metabolisme.
Membedakan antara penyakit kuning fisiologis dan patologis memerlukan penilaian klinis dan pemeriksaan laboratorium yang cermat. Protokol rumah sakit memandu tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi faktor risiko dan menentukan perlunya evaluasi lebih lanjut.
Etiologi: Mengungkap Penyebab Penyakit Kuning pada Pasien Rawat Inap
Penyebab penyakit kuning pada pasien rawat inap beragam dan bervariasi tergantung pada usia, kondisi medis yang mendasarinya, dan kondisi rumah sakit (misalnya, unit perawatan intensif neonatal, unit medis-bedah dewasa).
Pada Bayi Baru Lahir:
- Penyakit hemolitik: Ketidakcocokan Rh, ketidakcocokan ABO, dan defisiensi enzim sel darah merah lainnya (misalnya defisiensi G6PD) menyebabkan percepatan pemecahan sel darah merah.
- Prematuritas: Bayi prematur mempunyai hati yang kurang berkembang dan lebih rentan terhadap penyakit kuning.
- Penyakit kuning saat menyusui: Asupan susu yang tidak mencukupi pada masa-masa awal menyusui dapat menyebabkan dehidrasi dan peningkatan konsentrasi bilirubin.
- Penyakit kuning ASI: Zat dalam ASI dapat menghambat metabolisme bilirubin.
- Cephalohematoma atau memar: Kerusakan darah akibat kondisi ini meningkatkan beban bilirubin.
- Infeksi: Sepsis atau infeksi bawaan dapat mengganggu fungsi hati.
- Gangguan metabolisme: Seperti sindrom Gilbert atau sindrom Crigler-Najjar.
Pada Orang Dewasa:
- Penyakit hepatoseluler: Hepatitis (virus, alkohol, autoimun), sirosis, kanker hati.
- Ikterus obstruktif: Batu empedu, tumor pada saluran empedu atau pankreas, penyempitan saluran empedu.
- Anemia hemolitik: Anemia hemolitik autoimun, sferositosis herediter, penyakit sel sabit.
- Cedera hati akibat obat: Obat-obatan tertentu dapat merusak hati.
- Infeksi: Sepsis, malaria, leptospirosis.
- Kondisi langka: Kolangitis bilier primer, kolangitis sklerosis primer.
Riwayat kesehatan yang menyeluruh, pemeriksaan fisik, dan pengujian diagnostik yang tepat sangat penting untuk menentukan penyebab penyakit kuning.
Diagnosis: Pendekatan Multi-segi
Mendiagnosis penyakit kuning di rumah sakit melibatkan kombinasi penilaian klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Penilaian Klinis:
- Penilaian visual: Mengamati luasnya dan perkembangan penyakit kuning.
- Pemeriksaan fisik: Mengevaluasi tanda-tanda kondisi medis yang mendasari, seperti hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa), nyeri tekan perut, atau kelainan neurologis.
- Pengambilan riwayat: Mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan pasien, obat-obatan, riwayat penyakit kuning dalam keluarga, dan faktor risiko.
Investigasi Laboratorium:
- Kadar bilirubin total dan langsung: Mengukur jumlah bilirubin dalam darah. Bilirubin langsung mewakili bilirubin terkonjugasi, sedangkan bilirubin tidak langsung mewakili bilirubin tak terkonjugasi.
- Hitung darah lengkap (CBC): Menilai indeks sel darah merah dan mengidentifikasi tanda-tanda anemia atau infeksi.
- Apusan darah tepi: Memeriksa morfologi sel darah merah untuk mencari bukti hemolisis.
- Tes fungsi hati (LFT): Mengevaluasi enzim hati (AST, ALT, ALP, GGT) untuk menilai kerusakan hati.
- Jumlah retikulosit: Mengukur laju produksi sel darah merah.
- Tes Coombs (tes antiglobulin langsung): Mendeteksi antibodi yang menempel pada sel darah merah, menandakan anemia hemolitik autoimun atau ketidakcocokan golongan darah.
- Serologi virus hepatitis: Tes hepatitis A, B, dan C.
- Studi pencitraan: USG, CT scan, atau MRI untuk mengevaluasi hati, saluran empedu, dan pankreas.
- Biopsi hati: Dalam beberapa kasus, biopsi hati mungkin diperlukan untuk mengetahui penyebab kerusakan hati.
Manajemen: Strategi Perawatan di Rumah Sakit
Penatalaksanaan penyakit kuning di rumah sakit bergantung pada penyebab yang mendasari, tingkat keparahan hiperbilirubinemia, dan kondisi klinis pasien secara keseluruhan.
Fototerapi:
Fototerapi adalah pengobatan utama untuk penyakit kuning neonatal. Ini melibatkan paparan kulit bayi terhadap cahaya biru-hijau khusus, yang mengubah bilirubin menjadi bentuk yang larut dalam air yang dapat dikeluarkan melalui urin dan tinja. Efektivitas fototerapi bergantung pada intensitas cahaya, luas permukaan kulit yang terpapar, dan status hidrasi bayi. Pemantauan kadar bilirubin secara teratur sangat penting selama fototerapi.
Transfusi Tukar:
Transfusi tukar adalah prosedur yang lebih invasif yang digunakan untuk hiperbilirubinemia parah yang tidak merespons fototerapi atau bila terdapat bukti ensefalopati bilirubin (kerusakan otak yang disebabkan oleh bilirubin). Tindakan ini melibatkan pengambilan darah bayi dan menggantinya dengan darah donor, sehingga menurunkan kadar bilirubin dan menghilangkan antibodi jika terjadi penyakit hemolitik.
Imunoglobulin Intra Vena (IVIG):
IVIG dapat digunakan pada kasus ketidakcocokan Rh atau ABO untuk mengurangi laju hemolisis.
Pengobatan Penyebab yang Mendasari:
Mengatasi penyebab utama penyakit kuning sangatlah penting. Ini mungkin melibatkan pengobatan infeksi, penanganan penyakit hati, atau menghilangkan penyumbatan saluran empedu.
Perawatan Suportif:
Perawatan suportif termasuk memastikan hidrasi yang cukup, memberikan dukungan nutrisi, dan memantau komplikasi.
Pencegahan:
Tindakan pencegahan meliputi:
- Menyusui dini dan sering: Mendorong ibu untuk sering menyusui untuk meningkatkan ekskresi bilirubin.
- Globulin imun Rh (RhoGAM): Pemberian RhoGAM pada ibu dengan Rh-negatif untuk mencegah sensitisasi Rh.
- Skrining untuk defisiensi G6PD: Melakukan skrining pada bayi baru lahir untuk mengetahui defisiensi G6PD di area yang sering mengalami defisiensi G6PD.
Komplikasi: Mengenali dan Mengatasi Potensi Risiko
Penyakit kuning yang tidak diobati atau parah dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada bayi baru lahir.
- Ensefalopati bilirubin (kernikterus): Bilirubin dapat melewati sawar darah-otak dan merusak otak, menyebabkan kerusakan saraf, lumpuh otak, gangguan pendengaran, dan cacat intelektual.
- Gagal hati akut: Kerusakan hati yang parah dapat menyebabkan gagal hati.
- Koagulopati: Disfungsi hati dapat mengganggu produksi faktor pembekuan sehingga meningkatkan risiko perdarahan.
- Gagal ginjal: Gagal hati dapat mempengaruhi fungsi ginjal.
Diagnosis dini dan penanganan penyakit kuning yang cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi ini. Protokol rumah sakit harus mencakup pedoman untuk memantau kadar bilirubin, mengidentifikasi faktor risiko, dan memulai pengobatan yang tepat.
Asuhan Keperawatan: Peran Penting dalam Manajemen
Perawat memainkan peran penting dalam pengelolaan penyakit kuning di rumah sakit. Tanggung jawab mereka meliputi:
- Pemantauan kadar bilirubin: Secara teratur memeriksa kadar bilirubin dan mendokumentasikan hasilnya.
- Memberikan fototerapi: Memastikan fototerapi diberikan dengan benar dan memantau respons bayi.
- Mendidik orang tua: Memberikan informasi kepada orang tua tentang penyakit kuning, penyebabnya, pengobatannya, dan potensi komplikasinya.
- Mempromosikan pemberian ASI: Membantu ibu dalam menyusui dan memberikan dukungan untuk memastikan kecukupan asupan ASI.
- Pemantauan komplikasi: Observasi tanda-tanda ensefalopati bilirubin atau komplikasi lainnya.
- Pemberian obat: Pemberian obat sesuai anjuran dokter.
Perencanaan dan Tindak Lanjut Pemulangan:
Sebelum pulang, orang tua harus menerima instruksi yang jelas tentang cara memantau bayi mereka dari penyakit kuning dan kapan harus mencari pertolongan medis. Janji temu lanjutan harus dijadwalkan untuk memastikan kadar bilirubin menurun dan bayi berkembang dengan baik. Pada orang dewasa, tindak lanjut yang tepat bergantung pada etiologi penyakit kuning dan mungkin melibatkan pemantauan berkelanjutan, manajemen pengobatan, atau intervensi bedah.

