rsud-limapuluhkotakab.org

Loading

perbedaan obat tbc puskesmas dan rumah sakit

perbedaan obat tbc puskesmas dan rumah sakit

Perbedaan Obat TBC Puskesmas dan Rumah Sakit: Panduan Lengkap untuk Pasien dan Keluarga

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Pengobatan TBC memerlukan kombinasi beberapa jenis obat yang harus diminum secara teratur selama minimal enam bulan. Di Indonesia, pengobatan TBC tersedia di Puskesmas dan Rumah Sakit. Meskipun tujuan pengobatannya sama, terdapat perbedaan signifikan antara obat TBC yang disediakan di kedua fasilitas kesehatan tersebut. Memahami perbedaan ini penting agar pasien dan keluarga dapat mengikuti pengobatan dengan tepat dan efektif.

1. Jenis Obat yang Tersedia:

  • Puskesmas: Puskesmas umumnya menyediakan obat TBC lini pertama, yang merupakan obat standar untuk pengobatan TBC yang belum resisten terhadap obat. Obat lini pertama terdiri dari:

    • Isoniazid (INH): Salah satu obat utama yang bekerja dengan menghambat sintesis asam mikolat, komponen penting dinding sel bakteri TBC.
    • Rifampisin (RIF): Obat yang sangat efektif yang menghambat RNA polimerase bakteri, sehingga menghentikan pertumbuhan dan replikasi bakteri.
    • Pirazinamid (PZA): Obat yang bekerja dengan menghambat sintesis asam lemak, juga penting untuk dinding sel bakteri TBC. Digunakan pada fase intensif pengobatan.
    • Etambutol (EMB): Obat yang menghambat sintesis arabinogalaktan, komponen lain dari dinding sel bakteri TBC. Digunakan untuk mencegah resistensi obat.
    • Streptomisin (SM): Obat suntik yang menghambat sintesis protein bakteri. Biasanya digunakan pada fase intensif atau jika ada resistensi terhadap obat lain. Namun, penggunaannya di Puskesmas mungkin terbatas tergantung ketersediaan dan keahlian tenaga medis.

    Obat-obatan ini biasanya tersedia dalam bentuk kombinasi dosis tetap (Fixed-Dose Combination – FDC), yang menggabungkan beberapa obat dalam satu tablet. FDC memudahkan pasien untuk minum obat dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Contoh FDC yang umum adalah kombinasi Isoniazid, Rifampisin, Pyrazinamide, dan Ethambutol (HRZE).

  • Rumah Sakit: Rumah sakit menyediakan spektrum obat TBC yang lebih luas, termasuk obat lini pertama dan obat lini kedua. Obat lini kedua digunakan untuk mengobati TBC resisten obat (MDR-TB), yaitu TBC yang resisten terhadap minimal dua obat TBC lini pertama (Isoniazid dan Rifampisin). Obat lini kedua meliputi:

    • Fluoroquinolones (Levofloxacin, Moxifloxacin): Antibiotik spektrum luas yang menghambat DNA gyrase bakteri.
    • Aminoglikosida (Amikasin, Kanamisin): Antibiotik suntik yang menghambat sintesis protein bakteri.
    • Kapreomisin: Antibiotik suntik yang menghambat sintesis protein bakteri.
    • Etionamida/Protionamid: Obat yang menghambat sintesis asam mikolat.
    • Sikloserin/Terizidone: Obat yang menghambat sintesis dinding sel bakteri.
    • Asam para-aminosalisilat (PAS): Obat yang menghambat sintesis asam folat.
    • Bedaquilin: Obat yang menghambat ATP synthase bakteri, penting untuk produksi energi.
    • Delamanid: Obat yang menghambat sintesis asam mikolat.

    Ketersediaan obat lini kedua di rumah sakit memungkinkan penanganan kasus TBC yang lebih kompleks, termasuk MDR-TB dan XDR-TB (Extensively Drug-Resistant TB), yaitu TBC yang resisten terhadap Isoniazid, Rifampisin, fluoroquinolones, dan setidaknya satu obat lini kedua suntik.

2. Ketersediaan dan Aksesibilitas:

  • Puskesmas: Puskesmas dirancang untuk menyediakan layanan kesehatan dasar yang mudah diakses oleh masyarakat. Obat TBC lini pertama umumnya tersedia secara gratis di Puskesmas melalui program pemerintah. Pasien dapat memperoleh obat TBC setelah didiagnosis oleh dokter Puskesmas dan mengikuti program pengobatan yang diawasi (Directly Observed Treatment, Short-course – DOTS). DOTS memastikan pasien minum obat secara teratur di bawah pengawasan petugas kesehatan.

  • Rumah Sakit: Akses ke obat TBC di rumah sakit mungkin memerlukan rujukan dari Puskesmas atau dokter praktik swasta. Meskipun obat TBC lini pertama juga tersedia di rumah sakit, fokus utama rumah sakit adalah pada penanganan kasus TBC yang lebih rumit, termasuk TBC dengan komplikasi dan MDR-TB. Biaya pengobatan TBC di rumah sakit mungkin lebih tinggi dibandingkan di Puskesmas, terutama jika melibatkan obat lini kedua dan perawatan rawat inap. Namun, pemerintah juga menyediakan subsidi dan program bantuan untuk pasien TBC yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

3. Tenaga Medis dan Keahlian:

  • Puskesmas: Puskesmas memiliki dokter umum dan perawat yang terlatih dalam pengelolaan TBC. Mereka bertanggung jawab untuk mendiagnosis TBC, memberikan obat, memantau efek samping, dan memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga. Puskesmas juga memiliki petugas kesehatan masyarakat yang bertugas melakukan pelacakan kontak dan memberikan dukungan kepada pasien TBC di komunitas.

  • Rumah Sakit: Rumah sakit memiliki dokter spesialis paru (Pulmonologist) dan dokter spesialis penyakit dalam (Internist) yang memiliki keahlian khusus dalam penanganan TBC, termasuk MDR-TB dan kasus TBC dengan komplikasi. Rumah sakit juga memiliki fasilitas laboratorium yang lebih lengkap untuk melakukan pemeriksaan diagnostik yang lebih canggih, seperti tes kepekaan obat (Drug Susceptibility Testing – DST) untuk menentukan resistensi obat.

4. Pemeriksaan Diagnostik:

  • Puskesmas: Puskesmas biasanya melakukan pemeriksaan dahak mikroskopis (BTA) untuk mendiagnosis TBC. Pemeriksaan ini relatif sederhana dan cepat, namun kurang sensitif dibandingkan pemeriksaan yang lebih canggih. Jika hasil BTA negatif tetapi pasien memiliki gejala TBC, dokter Puskesmas dapat merujuk pasien ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

  • Rumah Sakit: Rumah sakit memiliki fasilitas laboratorium yang lebih lengkap untuk melakukan pemeriksaan diagnostik TBC, termasuk:

    • Biakan Dahak: Pemeriksaan yang lebih sensitif dibandingkan BTA untuk mendeteksi bakteri TBC.
    • Tes Cepat Molekuler (TCM): Pemeriksaan yang dapat mendeteksi bakteri TBC dan resistensi terhadap Rifampisin dalam waktu singkat.
    • Tes Kepekaan Obat (DST): Pemeriksaan untuk menentukan resistensi bakteri TBC terhadap berbagai jenis obat.
    • Rontgen Dada: Pemeriksaan radiologi untuk melihat kelainan pada paru-paru yang disebabkan oleh TBC.
    • CT Scan Dada: Pemeriksaan radiologi yang lebih detail dibandingkan rontgen dada untuk melihat kelainan pada paru-paru.

5. Pemantauan Efek Samping Obat:

  • Puskesmas: Petugas kesehatan Puskesmas secara rutin memantau efek samping obat TBC yang dialami pasien. Efek samping yang umum termasuk mual, muntah, nafsu makan menurun, dan gangguan fungsi hati. Jika pasien mengalami efek samping yang berat, dokter Puskesmas dapat menyesuaikan dosis obat atau merujuk pasien ke rumah sakit.

  • Rumah Sakit: Dokter spesialis di rumah sakit memiliki pengalaman yang lebih luas dalam menangani efek samping obat TBC yang kompleks, termasuk efek samping obat lini kedua. Rumah sakit juga memiliki fasilitas untuk melakukan pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap untuk memantau fungsi organ tubuh pasien selama pengobatan.

6. Program Pendukung dan Edukasi:

  • Puskesmas: Puskesmas menyediakan program pendukung dan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang TBC, termasuk cara minum obat yang benar, pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan, dan cara mencegah penularan TBC. Petugas kesehatan masyarakat juga memberikan dukungan psikososial kepada pasien TBC.

  • Rumah Sakit: Rumah sakit juga menyediakan program pendukung dan edukasi tentang TBC, terutama untuk pasien dengan MDR-TB. Program ini meliputi konseling, dukungan kelompok, dan edukasi tentang cara mengelola efek samping obat.

Kesimpulan:

Meskipun tujuan pengobatan TBC sama, terdapat perbedaan signifikan antara obat TBC yang disediakan di Puskesmas dan Rumah Sakit. Puskesmas menyediakan obat TBC lini pertama untuk pengobatan TBC yang belum resisten obat, sedangkan rumah sakit menyediakan spektrum obat yang lebih luas, termasuk obat lini kedua untuk mengobati MDR-TB. Akses ke obat TBC di Puskesmas lebih mudah dan gratis, sedangkan akses ke obat TBC di rumah sakit mungkin memerlukan rujukan dan biaya yang lebih tinggi. Pemilihan fasilitas kesehatan untuk pengobatan TBC tergantung pada kondisi pasien dan jenis TBC yang diderita. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.